KETIKA GURU BESAR MENGAJAR SD TIDAK MUDAH, SISWA LEBIH AKTIF BERCELOTEH

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Malam

Sinarberita.com - Bagi seorang guru besar, mengajar mahasiswa sudah menjadi menu sehari-hari. Namun, apa jadinya jika harus mengajar para siswa SD? Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang juga guru besar PPKn Prof Warsono pun ’’berjuang’’ demi bisa menarik perhatian para siswa.

PUJI TYASARI

’’ADA yang pernah sekolah PAUD?’’ tanya Warsono ketika menyapa para siswa kelas I SD Labschool Unesa. Sekitar 20 siswa di kelas itu pun rata-rata mengacungkan jari sembari berceloteh riang. ’’Saat PAUD, siapa yang dipakaikan sepatu oleh mama?’’ kata Warsono kemudian.

INTERAKTIF: Rektor Unesa Prof Warsono menarik perhatian siswa SD Labschool Unesa dengan mengajak berkomunikasi.

Beragam jawaban pun terlontar dari mulut siswa untuk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Warsono. Ada yang memakai sepatu sendiri, ada pula yang dibantu kakak. Juga, ada yang dibantu mama. Warsono lalu menjelaskan, anak-anak saat kecil butuh bantuan mama untuk memakai sepatu. Demikian juga ketika mandi dan makan. ’’Kenapa kita tidak bisa melakukan sendiri?’’ tanyanya lagi.

Sebagai manusia, lanjut dia, seseorang membutuhkan bantuan orang lain. Apalagi saat masih kecil. Selain mama, kita butuh bantuan kakak ataupun nenek. ’’Saat dibantu itu artinya kita butuh bantuan orang lain,’’ katanya.

Saat tidak punya rautan pensil, kita bisa pinjam milik teman. ’’Kalau ada yang pinjam, boleh atau tidak?’’ tanyanya. Para siswa pun dengan serempak menjawab boleh. Lalu, ada yang bercerita tentang kejadian yang dialami di rumah. ’’Itu artinya, kita membantu orang lain. Jadi harus saling membantu,’’ katanya. ’’Mau nggak bantu orang lain?’’ ucapnya kemudian.

Di luar dugaan, ternyata ada siswa yang berceletuk tidak mau. ’’Kalau tidak mau membantu orang lain, orang lain juga tidak mau membantu kita. Karena suatu saat kita juga butuh bantuan orang lain,’’ jelasnya. Para siswa pun mulai memahami.

Pengalaman mengajar dengan tema Kerja Sama itu menjadi salah satu pengalaman berkesan bagi Warsono. ’’Ternyata mengajar siswa kelas I itu tidak mudah seperti yang dibayangkan,’’ katanya. Selain banyak siswa yang berceloteh, dia harus mengondisikan kelas agar tetap kondusif. Ada juga siswa yang bertanya di luar dugaannya. ’’Kenapa mama terus yang disebut, kenapa papa tidak?’’ tanya siswa itu. Menurut dia, pertanyaan tersebut sangat bagus. ’’Pertanyaan kelas tinggi,’’ tambahnya. Dia pun harus mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.

Menurut Warsono, seorang guru harus memiliki kemampuan berinovasi dan strategi mengajar yang baik. Demikian juga para dosen yang mengajar para mahasiswa calon guru. Nah, pengalaman mengajar yang dilakukan di SD Labschool Unesa itu diharapkan bisa menjadi pengalaman tersendiri untuk disampaikan kepada para mahasiswa. Harapannya, tercipta strategi atau inovasi pembelajaran yang baru. ’’Menjadi laboratorium para dosen untuk berinovasi. Dosen juga harus kritis dan berjiwa pembelajar,’’ jelasnya.

Lelaki kelahiran Boyolali, 56 tahun lalu itu, mengatakan bahwa ada kesulitan yang berbeda antara mengajar kelas rendah (kelas I–III) dan kelas tinggi (IV–VI). Untuk kelas tinggi, tingkat kesulitan guru terletak pada materi pelajaran. Untuk kelas rendah, guru harus punya proses kreatif yang lebih besar dalam mengajar. ’’Karena anak-anak juga belum memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi,’’ paparnya.

Tujuan pembelajaran di kelas rendah, lanjut dia, tidak harus tuntas hari itu. Proses mengajar siswa di kelas rendah relatif lebih panjang dibandingkan kelas tinggi. Lantaran siswa mudah bosan, guru harus bisa berakting. ’’Bisa berekspresi, bahasa tubuh harus mendukung. Kalau perlu lewat nyanyi. Guru itu ibarat artis,’’ jelas rektor yang dilantik pada 2014 tersebut. Tidak kalah penting, kata Warsono, guru juga harus membentuk siswa agar tidak takut bertanya.

Direktur Labschool Unesa Alimufi Arief menyatakan, bukan hanya rektor yang akan mengajar siswa SD. Nantinya ada juga para doktor, dosen, serta mahasiswa lain yang akan mengajar. ’’Dilakukan bergantian,’’ tuturnya.

Kegiatan itu bertujuan memberikan pengalaman kepada para guru besar dan dosen. Dengan begitu, teori mengajar yang dimiliki bisa seimbang dengan praktiknya. ’’Selama ini sudah tahu teorinya. Tapi, ketika di kelas bisa berbeda kondisinya,’’ paparnya. 
(Sumber : jawapos)

Download Aplikasi SUMBER INFORMASI PGRI di HP Android Anda Untuk Dapatkan Berita Terbaru Seputar Pendidikan dan Profesi Keguruan Setiap Hari, Silakan Instal Aplikasinya https://play.google.com/store/apps/SumberInformasiPgri


Demikian berita dan informasi terkini yang dapat kami sampaikan. Silahkan like fanspagenya dan tetap kunjungi situs kami di www.sinarberita.com. Kami senantiasa memberikan berita dan informasi terupdate dan teraktual yang dilansir dari berbagai sumber terpercaya. Terima Kasih atas kunjungan anda semoga informasi yang kami sampaikan ini bermanfaat.. Untuk info terbaru lainya silakan kunjungi laman DISINI

Comments